Tradisi Tabot
![]() |
| Festival Tabot |
Hujan
gerimis tak henti-henti sepanjang hari turun membasahi bumi. Seorang anak
remaja disebuah rumah nampak gelisah,
sebentar-sebentar pandangannya diarahkan keluar jendela berharap hujan
mereda. Tak jarang terdengar gerutuan kecil dari mulut sang anak “aduh kenapa
nih hujan gak juga berhenti, nggak mendukung amat sih” sambil sesekali pandangannya diarahkan keluar
jendela dan jam dinding yang ada dimeja belajarnya. Ia sepertinya tampak kesal
sekali dengan hujan yang turun, karena segala rencana yang sudah disusun dihari
itu berantakan. Terbayang tugas dari guru disekolahnya yang belum dia kerjakan
dan harus dikumpul keesokan harinya.
Nama
anak remaja tersebut adalah Tony.
Ia bersekolah di salah satu SMP
paforit di Kota Bengkulu, yaitu SMP Negeri 01 Kota Bengkulu. Tony dikenal
sebagai anak yang jujur, disiplin, kreatif, mandiri, dan pintar. Tak heran jika
ia selalu meraih peringkat kelas setiap tahunnya. Karena sifatnya yang baik,
Tony sangat disenangi oleh teman-temannya. Selain disenangi oleh teman-temannya,
Tony juga disayangi oleh guru-gurunya karena Tony adalah anak yang baik dan
berakhlak mulia yang senantiasa menolong orang jika sedang dalam kesusahan.
Namun ada satu hal yang tidak disukai Tony, yaitu berjalan-jalan dan pergi ke
tempat keramaian. Ia lebih sering
bermain dirumah dengan computer kesayangannya, bercanda dengan teman-temannya
melalui jejaring sosial atau main game.
Sambil
terus menatap jendela, berharap hujan berhenti, Tony masih ingat tugas
yang yang diberikan oleh guru Bahasa Indonesia di kelasnya beberapa
hari yang lalu untuk mencari informasi mengenai Budaya Bengkulu. Terbayang
dibenaknya tentang festifal Tabot, yang kebetulan sedang dilaksanakan. “saya
akan membuat tulisan tentang tabot saja” tegas Tony kepada kawan disebelahnya “kan sekarang sedang
hangat-hangatnya dibicarakan” tegasnya kembali.
Pada
saat sampai di rumah, Tony beristirahat di kamarnya sambil memikirkan bagaimana
cara ia menyelesaikan tugas yang diberikan oleh gurunya. Ia membuat rencana
bahwa hari itu ia akan dating ke acara festifal tabot untuk melihat dan mencari
informasi seputar tabot. Namun karena
hujan tak juga turun maka rencana yang sudah dia susun menjadi berantakan.
Tiba-tiba Tony teringat bahwa pamannya adalah salah satu Keluarga Keturunan Tabot sehingga
ia dapat bertanya secara langsung mengenai asal muasal tabot dan kenapa pamannya
harus menyelenggarakan Tabot setiap
tahunnya. Akhirnya, pada sore hari,
setelah hujan sedikit reda Tony pergi ke rumah paman temannya yang sedang
mempersiapkan keperluan untuk Tradisi Tabot Bersanding yang akan dilaksanakan
Besok.
Pada
waktu dijalan menuju rumah pamannya Tony melihat Budi dan Andy sedang duduk di
teras rumah Budi yang kelihatannya mereka sedang kesusahan dan kebingungan.
Lalu, Tony turun dari mobilnya dan segera menghampiri temannya tersebut. Tony
bertanya “Ada apa teman?? Kenapa kalian kelihatan sedang bingung??”. Budi dan
Andy menjawab “Iya nih, kami lagi bingung tentang tugas yang diberikan oleh ibu
guru di sekolah tadi. Kami tidak tahu bagaimana cara menyelesaikan tugas
tersebut karena kami hanya tahu sedikit tentang Tradisi Tabot”. “Kalau begitu
kalian ikut aku saja kerumah pamanku, beliau adalah Keluarga Keturunan Tabot
yang mengerti seluk beluk tentang Tabot” jawab Tony. “Oke deh kalau begitu”
jawab Budi dan Andy serentak.
Sesampai
di rumah pamannya Tony, Budi, dan Andy
menghampiri paman Tony yang sedang mempersiapkan sesuatu. “Permisi paman,
apakah kami boleh bertanya sesuatu??” kata Tony. Pamannya menjawab “Tentu saja boleh,
bertanya tentang apa?”. “Ini nih paman, aku dan temanku mempunyai tugas
mengenai Tradisi Tabot, walaupun aku sendiri tidak menyukai Tabot, setidaknya
mengetahui sedikit tentang asal muasal Tabot kelihatannya tidak apa-apa” kata
Tony. “Baiklah, pada mulanya Tabot dibawa dan dikembangkan oleh
orang-orang India asal Siphoy yang datang bersama datangnya tentara Inggris ke
Bengkulu tahun 1685. Mereka datang ke Bengkulu dari Madras-Benggali India
bagian selatan, bersama-sama bangsa Inggris semasa pendudukannya di Bengkulu.
Salah satu pendatang tersebut adalah Ulama Syiah bernama Syeh Burhanuddin yang
kemudian lebih dikenal dengan nama Imam Senggolo. Beliau lah yang pertama kali
memperkenalkan upacara Tabot kepada masyarakat Bengkulu yang berada disekitar
Benteng Marlborough pada saat itu. Upacara Tabot selanjutnya diwariskan kepada
anak cucu keturunannya yang salah satunya adalah keluarga paman, sebenarnya
Tradisi Tabot ini sangat menarik, bagaimana kalau kamu dan teman-temanmu ikut
paman untuk melihat Tradisi-tradisi Tabot?” jawab pamannya. ”Ah… gk mungkin
menarik Tradisi Tabot itu kan membosankan dan hanya membuang-buang waktu” jawab
Tony”. “Darimana kamu tahu membosankan Tony? Apakah kamu sudah melihatnya?
Setahuku sih Tabot itu keren banget lho… apalagi pada saat alat musik dol
dimainkan, suaranya keren banget deh!” kata Budi. “Iya tuh Ton, selain untuk
melihat Tabot yang keren kan gk ada salahnya kalau kita mengenal Tradisi Tabot
lebih dalam, sekalian untuk menambah ilmu” sambung Andy. “Iya deh kalo gitu…”
jawab Tony. “oh iya paman, kenapa kita memperingati tradisi Tabot setiap
tahunnya?” kata Tony. Pamannya menjawab “Upacara Tabot ini merupakan Upacara hari berkabung atas gugurnya
Syaid Agung Husein Bin Ali Bin Abi Thalib, salah seorang cucu Nabi Muhammad SAW.
Inti dari Upacara Tabot tersebut adalah mengenang usaha dan upaya para pemimpin
Syi’ah dan kaumnya yang berupaya mengumpulkan bagian-bagian dari jenazah
Husein. Setelah semua bagian tubuhnya terkumpul kemudian diarak dan dimakamkan di
Padang Karbala. Seluruh upacara berlangsung selama 10 hari, yaitu dari tanggal 1
sampai dengan 10 Muharram”. “Aku gak paham nih paman, gimana kalo aku lihat
langsung Tradisinya?” kata Tony. “Baiklah, jika kamu ingin melihat Tradisinya
besok setelah pulang sekolah ajak temanmu untuk datang kerumah paman lagi”.
Pada keesokan harinya, Tony dan temannya
mengikuti pamannya untuk melihat secara langsung tahapan Upacara Tabot. Tahap
yang pertama adalah Mengambil Tanah. Tanah yang diambil tersebut merupakan tanah yang dianggap
mengandung nilai magis. Oleh sebab itu pengambilan tanah tersebut harus
dilakukan pada lokasi tertentu, yakni pada tempat yang dianggap keramat. Lokasi
tersebut hanya ada dua tempat di Kota Bengkulu, yaitu Keramat Tapak Paderi dan
Keramat Anggut.
Tahapan yang kedua itu adalah Duduk Penja. Penja adalah benda yang berbentuk
telapak tangan manusia lengkap dengan jari-jarinya, oleh karena itu penja
disebut juga jari-jari. Penja ini menurut keluarga Sipai adalah benda keramat
yang dipercaya mengandung kekuatan magis, oleh sebab itu maka harus dirawat,
dicuci dengan air bunga dan air limau (jeruk) setiap tahunnya. Prosesi upacara
mencuci Penja ini disebut dengan “Duduk Penja”. Duduk Penja dilakukan di rumah
seorang sesepuh keluarga Tabot, pimpinan dari kelompok keluarga Tabot bersangkutan.
Tahapan yang ketiga adalah Menjara. Menjara artinya mengandung (bahasa Bengkulu) atau
berkunjung dengan mendatangi kelompok keluarga yang lain untuk beruji Dol
(lomba membunyikan Dol). Tahap yang keempat adalah Meradai. Acara meradai ini dilakukan pada tanggal
06 Muharram, pelaksanaan acara ini disebut juga dengan Jola, yaitu sekelompok
anak-anak yang berusia antara 10 s/d 12 tahun. Acara meradai ini dilakukan di
dalam Kota Bengkulu, yang waktunya dilaksanakan pada siang hari. Tahap kelima
adalah Arak Penja. Arak
Penja atau disebut juga Arak Jari-jari, dilaksanakan pada malam ke delapan dari
bulan Muharram.Tahap keenam adalah Arak Serban.
Arak Serban / Sorban berlangsung pada malam ke Sembilan
bulan Muharram yang dimulai sekitar pukul 19.00 s/d 21.00. Tahap ketujuh adalah
Gam (masatenang/berkabung). Satu
dari tahapan Upacara Tabot yang sangat penting dan harus dilakukan adalah
“Gam”, suatu waktu yang telah ditentukan dengan tidak melakukan aktifitas apapun.
Tahap kedelapan adalah Arak
Gedang. Arak gedang dilaksanakan pada tanggal 09 Muharram
atau malam ke 10 Muharram, yang dimulai sekitar pukul 19.00 WIB dengan diawali
acara ritual pelepasan Tabot bersanding di Gerga masing-masing. Selanjutnya diteruskan
dengan Arak Gedang, yaitu group Tabot bergerak dari markas masing-masing secara
berombongan dengan menempuh rute yang telah ditentukan. Dan tahap terakhir
adalah Tabot Terbuang.
Acara ini dimulai pada pukul 09.00 WIB seluruh Tabot telah berkumpul di
Lapangan Merdeka di depan rumah jabatan Gubernur Bengkulu. Tabot-tabot
disandingkan yang diikuti oleh masing-masing personil kelompok tabot. Pada
sekitar pukul 10.00 Wib arak-arakan Tabot dilepas oleh Gubernur Bengkulu untuk
menuju komplek pemakaman umum Karabela. Tempat ini menjadi lokasi acara ritual
tabot terbuang karena di sana dimakamkan Imam Senggolo (Syeh Burhanuddin) pelopor
upacara Tabot di Bengkulu.
Melihat proses Tahapan-tahapan Upacara Tabot yang sangat menarik ini membuat Tony yang awalnya tidak menyukai Tabot akhirnya menyukai Tradisi Tabot. Ini membuatnya merasa ingin untuk melestarika Tradisi Tabot. Bukan hanya Tradisi Tabot saja, tetapi Tony juga ingin melestarikan Keanekaragaman Budaya Bengkulu yang lainnya yang sekarang ini sudah mulai terlupaka2n oleh masyarakat Bengkulu.
