Senin, 06 Januari 2014

Bengkulu Cerpen



Tradisi Tabot

Festival Tabot

Hujan gerimis tak henti-henti sepanjang hari turun membasahi bumi. Seorang anak remaja disebuah rumah nampak gelisah,  sebentar-sebentar pandangannya diarahkan keluar jendela berharap hujan mereda. Tak jarang terdengar gerutuan kecil dari mulut sang anak “aduh kenapa nih hujan gak juga berhenti, nggak mendukung amat sih”  sambil sesekali pandangannya diarahkan keluar jendela dan jam dinding yang ada dimeja belajarnya. Ia sepertinya tampak kesal sekali dengan hujan yang turun, karena segala rencana yang sudah disusun dihari itu berantakan. Terbayang tugas dari guru disekolahnya yang belum dia kerjakan dan harus dikumpul keesokan harinya.
Nama anak remaja tersebut adalah Tony.  Ia  bersekolah di salah satu SMP paforit di Kota Bengkulu, yaitu SMP Negeri 01 Kota Bengkulu. Tony dikenal sebagai anak yang jujur, disiplin, kreatif, mandiri, dan pintar. Tak heran jika ia selalu meraih peringkat kelas setiap tahunnya. Karena sifatnya yang baik, Tony sangat disenangi oleh teman-temannya. Selain disenangi oleh teman-temannya, Tony juga disayangi oleh guru-gurunya karena Tony adalah anak yang baik dan berakhlak mulia yang senantiasa menolong orang jika sedang dalam kesusahan. Namun ada satu hal yang tidak disukai Tony, yaitu berjalan-jalan dan pergi ke tempat keramaian.  Ia lebih sering bermain dirumah dengan computer kesayangannya, bercanda dengan teman-temannya melalui jejaring sosial atau main game.
Sambil terus menatap jendela, berharap hujan berhenti, Tony masih ingat tugas yang  yang diberikan oleh  guru Bahasa Indonesia di kelasnya beberapa hari yang lalu untuk mencari informasi mengenai Budaya Bengkulu. Terbayang dibenaknya tentang festifal Tabot, yang kebetulan sedang dilaksanakan. “saya akan membuat tulisan tentang tabot saja” tegas Tony kepada kawan  disebelahnya “kan sekarang sedang hangat-hangatnya dibicarakan” tegasnya kembali.
Pada saat sampai di rumah, Tony beristirahat di kamarnya sambil memikirkan bagaimana cara ia menyelesaikan tugas yang diberikan oleh gurunya. Ia membuat rencana bahwa hari itu ia akan dating ke acara festifal tabot untuk melihat dan mencari informasi seputar tabot.  Namun karena hujan tak juga turun maka rencana yang sudah dia susun menjadi berantakan. Tiba-tiba Tony teringat bahwa pamannya  adalah  salah satu Keluarga Keturunan Tabot sehingga ia dapat bertanya secara langsung mengenai asal muasal tabot dan kenapa pamannya  harus menyelenggarakan Tabot setiap tahunnya.  Akhirnya, pada sore hari, setelah hujan sedikit reda Tony pergi ke rumah paman temannya yang sedang mempersiapkan keperluan untuk Tradisi Tabot Bersanding yang akan dilaksanakan Besok.
Pada waktu dijalan menuju rumah pamannya Tony melihat Budi dan Andy sedang duduk di teras rumah Budi yang kelihatannya mereka sedang kesusahan dan kebingungan. Lalu, Tony turun dari mobilnya dan segera menghampiri temannya tersebut. Tony bertanya “Ada apa teman?? Kenapa kalian kelihatan sedang bingung??”. Budi dan Andy menjawab “Iya nih, kami lagi bingung tentang tugas yang diberikan oleh ibu guru di sekolah tadi. Kami tidak tahu bagaimana cara menyelesaikan tugas tersebut karena kami hanya tahu sedikit tentang Tradisi Tabot”. “Kalau begitu kalian ikut aku saja kerumah pamanku, beliau adalah Keluarga Keturunan Tabot yang mengerti seluk beluk tentang Tabot” jawab Tony. “Oke deh kalau begitu” jawab Budi dan Andy serentak.
Sesampai di rumah pamannya  Tony, Budi, dan Andy menghampiri paman Tony yang sedang mempersiapkan sesuatu. “Permisi paman, apakah kami boleh bertanya sesuatu??” kata Tony. Pamannya menjawab “Tentu saja boleh, bertanya tentang apa?”. “Ini nih paman, aku dan temanku mempunyai tugas mengenai Tradisi Tabot, walaupun aku sendiri tidak menyukai Tabot, setidaknya mengetahui sedikit tentang asal muasal Tabot kelihatannya tidak apa-apa” kata Tony.  “Baiklah, pada mulanya Tabot dibawa dan dikembangkan oleh orang-orang India asal Siphoy yang datang bersama datangnya tentara Inggris ke Bengkulu tahun 1685. Mereka datang ke Bengkulu dari Madras-Benggali India bagian selatan, bersama-sama bangsa Inggris semasa pendudukannya di Bengkulu. Salah satu pendatang tersebut adalah Ulama Syiah bernama Syeh Burhanuddin yang kemudian lebih dikenal dengan nama Imam Senggolo. Beliau lah yang pertama kali memperkenalkan upacara Tabot kepada masyarakat Bengkulu yang berada disekitar Benteng Marlborough pada saat itu. Upacara Tabot selanjutnya diwariskan kepada anak cucu keturunannya yang salah satunya adalah keluarga paman, sebenarnya Tradisi Tabot ini sangat menarik, bagaimana kalau kamu dan teman-temanmu ikut paman untuk melihat Tradisi-tradisi Tabot?” jawab pamannya. ”Ah… gk mungkin menarik Tradisi Tabot itu kan membosankan dan hanya membuang-buang waktu” jawab Tony”. “Darimana kamu tahu membosankan Tony? Apakah kamu sudah melihatnya? Setahuku sih Tabot itu keren banget lho… apalagi pada saat alat musik dol dimainkan, suaranya keren banget deh!” kata Budi. “Iya tuh Ton, selain untuk melihat Tabot yang keren kan gk ada salahnya kalau kita mengenal Tradisi Tabot lebih dalam, sekalian untuk menambah ilmu” sambung Andy. “Iya deh kalo gitu…” jawab Tony. “oh iya paman, kenapa kita memperingati tradisi Tabot setiap tahunnya?” kata Tony. Pamannya menjawab “Upacara Tabot ini merupakan Upacara hari berkabung  atas gugurnya Syaid Agung Husein Bin Ali Bin Abi Thalib, salah seorang cucu Nabi Muhammad SAW. Inti dari Upacara Tabot tersebut adalah mengenang usaha dan upaya para pemimpin Syi’ah dan kaumnya yang berupaya mengumpulkan bagian-bagian dari jenazah Husein. Setelah semua bagian tubuhnya terkumpul kemudian diarak dan dimakamkan di Padang Karbala. Seluruh upacara berlangsung selama 10 hari, yaitu dari tanggal 1 sampai dengan 10 Muharram”. “Aku gak paham nih paman, gimana kalo aku lihat langsung Tradisinya?” kata Tony. “Baiklah, jika kamu ingin melihat Tradisinya besok setelah pulang sekolah ajak temanmu untuk datang kerumah paman lagi”.
Pada keesokan harinya, Tony dan temannya mengikuti pamannya untuk melihat secara langsung tahapan Upacara Tabot. Tahap yang pertama adalah Mengambil Tanah. Tanah yang diambil tersebut merupakan tanah yang dianggap mengandung nilai magis. Oleh sebab itu pengambilan tanah tersebut harus dilakukan pada lokasi tertentu, yakni pada tempat yang dianggap keramat. Lokasi tersebut hanya ada dua tempat di Kota Bengkulu, yaitu Keramat Tapak Paderi dan Keramat Anggut.
Tahapan yang kedua itu adalah Duduk Penja. Penja adalah benda yang berbentuk telapak tangan manusia lengkap dengan jari-jarinya, oleh karena itu penja disebut juga jari-jari. Penja ini menurut keluarga Sipai adalah benda keramat yang dipercaya mengandung kekuatan magis, oleh sebab itu maka harus dirawat, dicuci dengan air bunga dan air limau (jeruk) setiap tahunnya. Prosesi upacara mencuci Penja ini disebut dengan “Duduk Penja”. Duduk Penja dilakukan di rumah seorang sesepuh keluarga Tabot, pimpinan dari kelompok keluarga Tabot bersangkutan.
Tahapan yang ketiga adalah Menjara. Menjara artinya mengandung (bahasa Bengkulu) atau berkunjung dengan mendatangi kelompok keluarga yang lain untuk beruji Dol (lomba membunyikan Dol). Tahap yang keempat adalah Meradai. Acara meradai ini dilakukan pada tanggal 06 Muharram, pelaksanaan acara ini disebut juga dengan Jola, yaitu sekelompok anak-anak yang berusia antara 10 s/d 12 tahun. Acara meradai ini dilakukan di dalam Kota Bengkulu, yang waktunya dilaksanakan pada siang hari. Tahap kelima adalah Arak Penja. Arak Penja atau disebut juga Arak Jari-jari, dilaksanakan pada malam ke delapan dari bulan Muharram.Tahap keenam adalah Arak Serban. Arak Serban / Sorban berlangsung pada malam ke Sembilan bulan Muharram yang dimulai sekitar pukul 19.00 s/d 21.00. Tahap ketujuh adalah Gam (masatenang/berkabung). Satu dari tahapan Upacara Tabot yang sangat penting dan harus dilakukan adalah “Gam”, suatu waktu yang telah ditentukan dengan tidak melakukan aktifitas apapun. Tahap kedelapan adalah Arak Gedang. Arak gedang dilaksanakan pada tanggal 09 Muharram atau malam ke 10 Muharram, yang dimulai sekitar pukul 19.00 WIB dengan diawali acara ritual pelepasan Tabot bersanding di Gerga masing-masing. Selanjutnya diteruskan dengan Arak Gedang, yaitu group Tabot bergerak dari markas masing-masing secara berombongan dengan menempuh rute yang telah ditentukan. Dan tahap terakhir adalah Tabot Terbuang. Acara ini dimulai pada pukul 09.00 WIB seluruh Tabot telah berkumpul di Lapangan Merdeka di depan rumah jabatan Gubernur Bengkulu. Tabot-tabot disandingkan yang diikuti oleh masing-masing personil kelompok tabot. Pada sekitar pukul 10.00 Wib arak-arakan Tabot dilepas oleh Gubernur Bengkulu untuk menuju komplek pemakaman umum Karabela. Tempat ini menjadi lokasi acara ritual tabot terbuang karena di sana dimakamkan Imam Senggolo (Syeh Burhanuddin) pelopor upacara Tabot di Bengkulu.
Melihat proses Tahapan-tahapan Upacara Tabot yang sangat menarik ini membuat Tony yang awalnya tidak menyukai Tabot akhirnya menyukai Tradisi Tabot. Ini membuatnya merasa ingin untuk melestarika Tradisi Tabot. Bukan hanya Tradisi Tabot saja, tetapi Tony juga ingin melestarikan Keanekaragaman Budaya Bengkulu yang lainnya yang sekarang ini sudah mulai terlupaka2n oleh masyarakat Bengkulu.